June 13 danangjp 1Comment

Di mana lagi ada yang menyebut acara kematian atau pemakaman seseorang dengan kata ‘pesta’ kalau bukan di Tana Toraja? Inilah satu-satunya tempat yang pernah saya datangi, yang begitu meriah merayakan kematian seseorang. Tidak hanya itu, pesta kematian inipun menjadi sajian wisata yang sangat diminati di daerah yang berkontur batu cadas ini. Bahkan, kuburanpun jadi obyek wisata!

Salah satu ritual dalam Rambu Solo
Salah satu ritual dalam Rambu Solo

Bagi masyarakat Toraja, belum lengkap kematian seseorang sebelum diantar ke alam keabadian dengan melakukan ritual yang disebut sebagai Rambu Solo. Ritual yang terdiri dari banyak tahapan ini dimulai ketika jasad dibungkus, diletakkan dalam peti, dan kemudian disemayamkan di dalam rumah adat keluarga (Tongkonan). Lamanya sesosok jasad berada di dalam tongkonan bergantung pada kesiapan keluarga untuk mengadakan ritual selanjutnya yang memakan banyak biaya karena melibatkan begitu banyak hewan sebagai kurban. Dalam pembicaraan sehari-hari selama saya di sana, menyemayamkan jasad selama belasan tahun bukanlah hal yang aneh. Ini karena adanya bermacam aturan adat mengenai jumlah hewan kurban yang harus disiapkan oleh tiap anggota keluarga yang kemudian sering kali menyulitkan dan/atau menimbulkan perdebatan yang panjang di antara para anggotanya.

Saat saya berkunjung ke Tana Toraja, saya beruntung dapat menyaksikan dua acara sekaligus dalam rangkaian ritual Rambu Solo ini, walaupun dari dua keluarga yang berbeda. Yang pertama saya lihat adalah ritual Ma’popengkalo alang atau pemindahan jasad dari rumah tinggal ke rumah adat keluarga atau disebut Tongkonan. Tongkonan adalah sebuah rumah adat yang dimiliki oleh sebuah keluarga secara turun-temurun. Konon, tua dan terhormatnya sebuah keluarga di Toraja dapat dilihat dari bentuk dan hiasan yang ada di Tongkonannya.

IMG_0602k
Ma’popengkalo alang atau pemindahan jasad dari rumah tinggal ke rumah adat keluarga.

Acara kedua yang saya saksikan adalah acara pesta kematian besar yang digelar oleh sebuah keluarga yang tampaknya cukup terkenal. Di sana, lagi-lagi, walau saya adalah orang asing dan bukan anggota dari keluarga tersebut, saya merasa diterima dengan sangat baik dan ramah. Saya ditawari untuk bisa duduk di lantang yang adalah bangunan sementara yang terbuat dari bambu yang merupakan tempat menginap keluarga selama acara berlangsung.

Pemasangan tanduk kerbau di tengah lapangan upacara.
Pemasangan tanduk kerbau di tengah lapangan upacara.

Dalam acara yang kedua itu, terlihatlah hewan-hewan kurban yang diarak keliling lapangan sambil disebutkan oleh siapa hewan-hewan tersebut dikurbankan. Setelah itu hewan tersebut disembelih dan khusus untuk kerbau, tanduknya ditata di sebuah tiang yang terletak di tengah lapangan.

Makam-makam di dalam batu cadas raksasa.
Makam-makam di dalam batu cadas raksasa.

Hal lain yang menarik di Tana Toraja adalah gua-gua dan bebatuan cadas raksasa yang dijadikan tempat pemakaman. Ini membuat saya merinding sekaligus terpesona. Pemakaman di batu-batu cadas ini biasanya adalah milik keluarga tua. Saat ini mulai banyak masyarakat Toraja yang sudah tidak memakamkan sanak-keluarganya di batu atau gua seperti ini. Karenanya, selagi masih bisa dilihat, silakan segera berkunjung ke Toraja.

Bagi saya, Toraja adalah salah satu tempat yang wajib dikunjungi sebelum meninggalkan dunia ini.

Makam-makam di dalam gua raksasa.
Makam-makam di dalam gua raksasa.

One thought on “Merayakan Kematian di Tana Toraja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *