January 7 danangjp 0Comment

Seorang teman berkata bahwa tidak ada waktu yang lebih tepat untuk mengunjungi Toraja daripada waktu liburan Natal dan tahun baru. Kenapa? Karena pada waktu-waktu itulah banyak orang Toraja yang merantau ke berbagai tempat pulang ke daerah asalnya sehingga banyak acara dilakukan bersamaan dengan itu. Mendengar itu, saya tidak berpikir dua kali untuk segera mengemas ransel dan pergi ke sana saat liburan Natal dan tahun baru kemarin.

Kontur tanah di Toraja yang bergunung karang cukup menantang.
Kontur tanah di Toraja yang bergunung cadas cukup menantang.

Perjalanan saya mulai dengan terbang ke Ujung Pandang untuk kemudian- karena beruntung- saya bisa bermobil bersama beberapa teman yang memang orang asli Toraja. Perjalanan bermobil ini sangat menyenangkan karena pada umumnya kondisi jalan dari Makassar ke Toraja cukup baik, walau banyak penyempitan jalan akibat pembangunan jembatan-jembatan yang tidak kunjung selesai. Kontur jalananpun sangat menantang. Dari Makassar sampai Pare Pare jalanan cukup lurus, namun selebihnya, kelokan, tanjakan, tikungan tajam, dan turunan curam menunggu.

Ukiran dengan motif khas Toraja yang konon melambangkan kelas sosial pemiliknya.
Ukiran dengan motif khas Toraja yang konon melambangkan kelas sosial pemiliknya.

Setelah sekitar 9 jam bermobil, sayapun sampai di tengah kota Toraja, Makale. Saya melihat keramaian di sini, lampu warna-warni, dan hiasan Natal di sana sini. Namun karena ingin merasakan Toraja yang lebih dalam, sayapun melanjutkan perjalanan ke Rantepao yang terletak sekitar 40 menit perjalanan dari Makale.

Sesampai di Rantepao, saya disambut oleh keluarga teman yang telah menanti kedatangan kami. Menginjakkan kaki ke dalam rumahnya, walau sudah jam 21.30, kopilah yang pertama kali ditawarkan.

“Harus diseduh dengan air mendidih. Tidak boleh pakai air dispenser.” Begitu kata ibu teman saya yang selanjutnya ikut saya panggil ibu.

Benar saja, sepanjang perjalanan di Toraja ini, kopi adalah minuman wajib yang selalu ada di setiap acara. Siapapun dia, orang asing maupun saudara, akan ditawari kopi nikmat yang dituangkan ke gelas-gelas sederhana. Inilah salah satu keramahan asli orang Toraja yang begitu membekas di hati saya.

Perlu saya beri catatan khusus di sini bahwa orang Toraja sangat bangga, kalau tidak mau dibilang fanatik, akan kopi asli Toraja. Tak heran dalam upacara-upacara besar, kopi selalu menjadi minuman yang tak pernah absen keberadaannya. Menghirup udara pagi di Tana Toraja adalah menghirup aroma kopi segar yang baru digiling untuk kemudian diseduh dengan air mendidih dan menghasilkan minuman yang nikmatnya sampai langit ke tujuh.

Keramahan yang tulus dalam cangkir-cangkir sederhana.
Keramahan yang tulus dalam cangkir-cangkir sederhana.

Hari berikutnya saya diajak untuk menghadiri acara Natal keluarga besar di kampung ayah teman saya yang selanjutnya saya panggil Bapak. Di sana lagi-lagi keramahanlah yang saya dapati menjadi sikap asli orang Toraja. Bak tiada batas mana saudara, mana teman, mana orang asing, saya merasa diperlakukan sama dengan semua orang yang hadir di acara Natal keluarga besar itu.

“Di Toraja ini, walaupun ada orang asing yang datang ke acara keluarga, mereka akan tetap dijamu dengan baik seperti layaknya keluarga sendiri.” Itu kata teman saya, yang kemudian saya buktikan sendiri kebenarannya.

Acara makan siang dengan bermacam hidangan khas Torajapun saya nikmati tanpa rasa canggung sama sekali. Tidak ketinggalan, kopi di gelas-gelas sederhana yang selalu diisi penuh, tanpa batas.

Toraja, kopi, dan keramahan masyarakatnya yang tulus, menjadi ingatan indah yang akan saya bawa seumur hidup.

Kopi yang harus ada dalam setiap acara. (Foto milik: @ohtxela)
Kopi yang harus ada dalam setiap acara.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *